
Di tengah ekspansi industri baja, Kelurahan Tegal Ratu, Kota Cilegon yang berada di radius terdekat kawasan industri mengalami beban pencemaran udara yang tinggi. Dengan jumlah penduduk 11.987 jiwa, wilayah ini menjadi salah satu kawasan dengan kasus ISPA tertinggi di Kota Cilegon. Data Puskesmas Ciwandan menunjukkan ISPA sebagai penyakit paling banyak diderita selama 2016–2024. Survei AEER terhadap 94 responden dengan lama tinggal lebih dari 10 tahun menunjukkan banyak warga mengalami batuk kronis, sesak napas, dan keluhan pernapasan lain yang berkorelasi dengan paparan polutan. Proses industri baja menghasilkan PM₂.₅ yang tercatat dalam pengukuran AMDAL melebihi baku mutu Korea Selatan pada beberapa titik pemantauan. Di negara lain, dampak serupa juga tercatat, misalnya Pennsylvania di mana 70% anak terpapar PM₂.₅ melebihi standar dan 22,5% didiagnosis asma, serta temuan global bahwa paparan PM menyebabkan peningkatan rawat inap kasus pneumonia dan bronkitis. Pada kasus silikosis, data Polandia menunjukkan 2.066 pekerja terkena penyakit ini selama 2000–2019, menunjukkan betapa tingginya risiko paparan industri terhadap kesehatan paru-paru.
Secara nasional, kebutuhan baja diproyeksikan meningkat drastis dari 16 juta ton pada 2023 menjadi 207 juta ton pada 2060, meningkat lebih dari 12 kali lipat. Jika tidak ada perubahan teknologi, emisi gas rumah kaca industri baja diperkirakan melonjak 11,7 kali lipat pada 2060, dan berpotensi menyumbang hingga 68,1% total emisi nasional. Dengan pangsa pasar KS Group sebesar 34–42% produksi baja nasional, peningkatan produksi Krakatau Posco akan berkontribusi besar terhadap lonjakan emisi tersebut. Sementara itu, pasar ekspor baja Indonesia menghadapi ancaman dari kebijakan CBAM Uni Eropa dan FPFA Amerika Serikat yang mengenakan beban karbon pada karbon-intensif steel imports. Krakatau Posco sendiri mengekspor ratusan ribu ton HRC dan plate ke Eropa dan Amerika setiap tahun, yang berarti produk BF–BOF beremisi tinggi berpotensi terkena tarif karbon yang menurunkan daya saing.
Temuan penelitian AEER melalui analisis emisi, kajian AMDAL, serta survei lapangan menegaskan adanya hubungan antara aktivitas industri baja dengan penurunan kualitas udara dan tingginya penyakit pernapasan pada warga Tegal Ratu. Penelitian ini sekaligus memperlihatkan ketidaksiapan industri baja nasional untuk menghadapi era dekarbonisasi global. Transformasi teknologi melalui peralihan ke rute rendah emisi seperti DRI–EAF berbasis energi terbarukan, peningkatan kapasitas daur ulang scrap, penguatan regulasi kualitas udara, serta perlindungan kesehatan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia agar tidak terjebak dalam jalur pembangunan beremisi tinggi yang merugikan warga maupun posisi ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Temuan penelitian AEER melalui analisis emisi, kajian AMDAL, serta survei lapangan menegaskan adanya hubungan antara aktivitas industri baja dengan penurunan kualitas udara dan tingginya penyakit pernapasan pada warga Tegal Ratu. Penelitian ini sekaligus memperlihatkan ketidaksiapan industri baja nasional untuk menghadapi era dekarbonisasi global. Transformasi teknologi melalui peralihan ke rute rendah emisi seperti DRI–EAF berbasis energi terbarukan, peningkatan kapasitas daur ulang scrap, penguatan regulasi kualitas udara, serta perlindungan kesehatan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia agar tidak terjebak dalam jalur pembangunan beremisi tinggi yang merugikan warga maupun posisi ekonomi nasional dalam jangka panjang.