Perusahaan-Perusahaan Multinasional dan Hilirisasi Nikel di Indonesia

  1. Hilirisasi telah menjadikan Indonesia sebagai pusat bisnis nikel global. Pada 2022: dengan menyimpan 21% dari total cadangan nikel dunia, Indonesia menambang 48% produksi bijih nikel dunia. Indonesia menyumbang 47,71% dari 3.060  kt output nikel primer dunia; Nickel Pig Iron (NPI) menyumbang 50% terhadap total produk nikel primer dunia; menghasilkan 1.145 kt, Indonesia menguasai 74% produksi NPI global; Indonesia  menjadi penghasil utama Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan memproduksi 89 kt; Indonesia juga memproduksi 226 kt nickel matte dan hampir 49% di antaranya bersumber dari konversi NPI ke nickel matte. MHP dan nickel matte adalah bahan baku (feedstock) nikel sulfat, material kunci baterai kendaraan listrik.

 

  1. Motor di balik pencapaian hilirisasi adalah pertumbuhan cepat fasilitas pengolahan nikel. Saat ini, Indonesia memiliki paling sedikit 158-lini RKEF (rotary-kiln electric furnace): 149-lini di antaranya memiliki kapasitas produksi pertahun 1336  kt NPI, 4-Lini dengan kapasitas produksi pertahun 27  kt feronikel, dan 4-lini dengan kapasitas produksi pertahun 70  kt nickel matte. Indonesia juga memiliki fasilitas-fasilitas pengolahan dengan teknologi berbeda: 1-lini Blast Furnace (BF) dengan kapasitas produksi 20  kt NPI; 4-lini Oxygen-Enriched Side-Blown Furnace (OECBF) dengan kapasitas produksi pertahun 37  kt nickel matte; 7-lini High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dengan kapasitas produksi pertahun 127  kt MHP.

 

  1. Indonesia sukses melakukan hilirisasi dengan memproduksi baja nirkarat dengan NPI sebagai bahan baku utama. Indonesia sukses menjadi lokasi produksi NPI-Baja nirkarat terintegrasi terbesar di dunia. Pada 2022, Indonesia diperkirakan menghasilkan 5,7 juta ton baja nirkarat, naik 14% tahun sebelumnya. Indonesia telah menjadi salah satu produsen utama baja nirkarat dunia. 

 

  1. Kawasan-kawasan industri terintegrasi “penambangan bijih nikel—peleburan nikel—pembuatan baja nirkarat” menjadi salah faktor kunci keberhasilan hilirisasi nikel di Indonesia. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Virtue Dragon Nickel Industrial Park (VDNIP), Indonesia Weda Bay Industrial Park  (IWIP) yang berdiri di daerah-daerah kaya cadangan nikel telah membuat produk-produk logam berbasis nikel bisa dihasilkan dengan ongkos lebih murah dan oleh karena itu dapat dijual dengan harga lebih kompetitif di pasar internasional. Ongkos produksi nikel setengah jadi dan baja nirkarat di Indonesia adalah yang termurah di dunia karena rantai nilai terintegrasi. 

 

  1. Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi motor di balik pertumbuhan cepat industri pengolahan nikel di Indonesia. Provinsi-provinsi penghasil nikel menjadi sasaran utama PMA di Indonesia sejak dasawarsa lalu. Dalam periode 2015-2022, realisasi PMA mencapai US$18,6 di Sulawesi Tengah, US$11,9 miliar di Maluku Utara, dan US$6,6 miliar di Sulawesi Tenggara. PMA mengalir mengongkosi pembangunan fasilitas-fasilitas produksi RKEF dan HPAL, pabrik-pabrik pembuatan baja nirkarat, dan infrastruktur-infrastruktur penunjang terutama PLTU Batubara captive power. Industri logam dasar (proyek-proyek RKEF, HPAL, dan baja nirkarat) menyerap 86,47% dari total nilai PMA di Sulawesi Tenggara, 80,80% di Maluku Utara, dan 74,62% di Sulawesi Tengah. Bahkan, arus masuk PMA di industri logam dasar membuat daerah-daerah penghasil nikel olahan menjadi tuan rumah utama PMA di Indonesia. Dari total nilai PMA di Indonesia US$44,1 miliar pada 2022,  Sulawesi Tengah menyerap 16,8% yang menempatkan provinsi tersebut di urutan pertama PMA di Indonesia.

 

  1. Perusahaan-perusahaan multinasional menjadi faktor yang menggerakkan perkembangan masif PMA di industri pengolahan nikel dan industri turunan  di Indonesia. Perusahaan-perusahaan seperti Tsingshan Holding Group, Delong Nickel Industry Co Ltd, Huayou Cobalt Co Ltd, Green Eco Manufacture (GEM) Co Ltd, Lygend Resources Technology Co Ltd, Contemporary Amperex Technology Co Ltd, CNGR Advanced Material Co Ltd yang berasal dari Tiongkok sukses menanam modal baik di kawasan-kawasan industri maupun bukan kawasan-kawasan industri berbasis nikel  di Indonesia.  Indonesia Morowali Industrial Park merupakan contoh paling mencolok, Tsingshan melalui berbagai anak usaha sukses melakukan investasi di industri-industri pengolahan nikel, pembuatan baja nirkarat, dan pengelolaan kawasan-kawasan industri.

 

  1. Mengingat PMA di industri pengolahan nikel dan industri turunan dilakukan segelintir perusahaan-perusahaan multinasional terkemuka dunia maka perusahaan-perusahaan tersebut menjadi pengendali industri dan oleh karena itu menjadi penerima manfaat utama. 

 

  •  Tsingshan Group dan Delong Group adalah grup-grup paling diuntungkan dari pertumbuhan industri pengolahan nikel dan industri baja nirkarat. Karena kedua grup bukan saja menguasai produksi NPI tetapi juga mengendalikan produksi baja nirkarat di Indonesia. Berkat kehadiran di Indonesia, Tsingshan Group adalah produsen nomor satu dan Delong Group adalah penghasil nomor dua nikel primer dunia.

 

  • Huayou Cobalt, Lygend Resources & Technology, CNGR Advanced Material, Contemporary Amperex Technology, Tsingshan Group adalah entitas-entitas bisnis yang paling diuntungkan dalam rantai nilai produksi bahan-bahan baku untuk baterai kendaraan listrik. Karena perusahaan-perusahaan tersebut menguasai produksi MHP dan nickel matte, dua produk nikel olahan yang menjadi bahan baku nikel sulfat.   

 

  1. Pertumbuhan cepat industri pengolahan nikel telah mengubah struktur ekonomi daerah-daerah penghasil nikel di Indonesia. Dalam kasus Sulawesi Tengah, sektor manufaktur  menyumbang 67,31% terhadap produk domestik regional bruto  (PDRB) Kabupaten Morowali pada 2022, melonjak tajam dari 11% pada 2012. Di tingkat provinsi, sektor industri pengolahan menyumbang 32,78% terhadap nilai PDRB Sulawesi Tengah pada tahun yang sama, menanjak tinggi dari 6,09% pada 2012. Pada 2022, nilai ekspor nikel olahan dan produk turunan mencapai US$16,2 miliar (Rp243 triliun) atau sekitar 86% dari total nilai ekspor Sulawesi Tengah. 

 

  1. Kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia dan pemerintah Tiongkok  menjadi penentu di balik sukses hilirisasi nikel. Larangan ekspor bijih nikel, pemberian insentif pajak industri pengolahan nikel dan turunan, penetapan proyek-proyek strategis nasional adalah kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia yang memungkinkan sukses hilirisasi. Program “Belt and Road Initiative” pemerintah Tiongkok telah memastikan percepatan hilirisasi nikel di Indonesia. Termasuk dukungan pembiayaan berbagai proyek pengolahan nikel oleh bank-bank komersial milik pemerintah Tiongkok. Tetapi, sukses hilirisasi nikel berjalan seiring dengan kesenjangan sosial dan pengrusakan alam.

  2. Penambangan dan pengolahan nikel setengah jadi di Indonesia memiliki jejak karbon sangat padat: pembakaran energi fosil menjadi tulang punggung penambangan dan pengangkutan bijih nikel laterit. Berbasis 9000 MW PLTU batubara captive power, industri pengolahan nikel dan industri turunan mengonsumsi energi fosil masif. Industri nikel Indonesia adalah sumber utama emisi hidrokarbon dalam rantai nilai global industri berbasis nikel. Perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi di dalam kawasan-kawasan industri adalah emitter.

  • Memiliki 44% dari kapasitas terpasang PLTU batubara di industri pengolahan nikel di Indonesia, Indonesia Morowali Industrial Park menjadi kawasan industri penghasil emisi hidrokarbon terbesar dalam industri ini. Kawasan industri tersebut sedang tumbuh menjadi salah satu pusat produksi bahan baku baterai kendaraan listrik. Dengan menjadi tuan rumah konversi NPI-nickel-matte dan proyek-proyek MHP, Indonesia Morowali Industrial Park pada tahun lalu menghasilkan 3,3 juta ton CO2 dalam rantai nilai baterai kendaraan listrik. Kontradiktif, fosilisasi menjadi motor transisi menuju energi bersih.

  1. Derajat penghisapan ekonomi sangat ekstrim terjadi di Morowali dan Morowali Utara, dua kabupaten penghasil utama nikel di Indonesia. Pada 2022, 95,65% PDRB di Kabupaten Morowali dan 84,11% di Kabupaten Morowali Utara mengalir keluar daerah. Penduduk Morowali hanya memperoleh 4,35% dan Morowali Utara hanya menyerap 15,89% dari total nilai PDRB masing-masing kabupaten. 

 

  1. Kemiskinan di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali masih tergolong tinggi. Pada 2022, tingkat kemiskinan di Morowali berada di level 12,58% dan di Morowali Utara 12,97%, berada di atas rata-rata Sulawesi Tengah di level 12,33%. 

 

  1. Penduduk yang tinggal di sekitar areal pertambangan dan industri pengolahan nikel menghadapi dampak-dampak lingkungan dan sosial yang tidak bisa dihindari seperti banjir dan sengketa tanah karena aktivitas-aktivitas industri. 

 

  1. Menjadi tulang punggung pertumbuhan masif industri pengolahan nikel, kaum buruh menjadi fihak paling menderita. Buruk standar kesehatan dan keselamatan kerja telah membuat Morowali dan Morowali utara menjadi ladang pembantaian. Kematian terkait kecelakaan kerja dan kasus bunuh diri di kalangan pekerja Tiongkok menunjukkan sisi-sisi paling gelap hilirisasi nikel di Indonesia.    
Share this article :

Aksi Ekologi & Emansipasi Rakyat berjuang memperluas ruang demokrasi dalam pengelolaan SDA berkelanjutan & membangun kesadaran ekologi politik rakyat.

Follow Us!

CONTACT INFO

Copyright 2023 © All Right Reserved Design by Aksi Ekologi & Empansipasi Rakyat